-->

Ratna Sarumpaet: Ahok Makin Ngawur, Gusur Tak Ada SP1, 2, dan 3, Veteran Perangpun Tak Dihargai Puluhan Tahun di Rawajati

Ratna Sarumpaet dan Warga Rawajati Tolak Penggusuran. Photo: Kompas.com
BukaKata.com - Jajaran Pemkot Jakarta Selatan tegas menyatakan akan menggusur bangunan di Jalan Rawajati Barat, Pancoran, Jakarta Selatan. Namun di lain pihak, penolakan oleh warga setempat semakin kuat. Tawaran pindah ke rusun juga ditolak mentah-mentah.

Pantauan di lokasi, nampak berdiri pos Forum Betawi Rempug (FBR) dan rumah milik Veteran Letkol (Purn) Ilyas Karim. Salah seorang warga RT 09, Syafril, 48, menuturkan, sudah tinggal di Jalan Rawajati Barat itu sejak tahun 1992. Selama itu pula, dia membuka usahanya pecel Lele di jalanan tersebut. Maka itu, dia pun enggan jika harus dipindahkan ke Rusun Marunda, Jakarta Utara.

“Pekan lalu tiba-tiba kelurahan bilang mau gusur tanggal 1 September 2016 mendatang. Dia ditawarin, warga pindah ke Rusun Marunda. Kami menolak. Itu jauh sekali, di sana pun belum tentu saya bisa jualan seperti di sini,” keluhnya di Jalan Rawajati Barat, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (25/8) siang kemarin.

Menurutnya, selain dia, Kakaknya yang bernama Chandra dan ayahnya yang seorang Veteran bernama Letkol (Purn) Ilyas Karim pun sudah tinggal di Jalan Rawajati Barat selama puluhan tahun lamanya. Begitu juga dengan puluhan warga yang ada di RT 09/04 tersebut.

“Di sini kami semua jualan, semua warga. Kalau kami pindah ke Rusun Marunda pun mata pencaharian kami apa?,” tandasnya. “Kami mau saja pindah jika Pemkot Jakarta Selatan itu menyediakan Rusun yang dekat dekat di Rawajati Barat,” harapnya.

Ayah tiga anak itu  menambahkan, anggota FBR ikut menolak penggusuran. Lantaran pos mereka berada di kawasan gusuran. Ke depan, warga pun berencana mengadukannya ke DPRD agar penggusuran itu dihentikan.

Sementara, Aktivis Ratna Sarumpaet menyebutkan, kalau pemerintahan era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias (Ahok) merupakan pemerintahan yang otoriter. Sebab warga Rawajati akan digusur tanpa diberikannya surat peringatan dahulu dan tak diberikan tempat tinggal layak.
“Masa mau menggusur tak ada SP1, 2, dan 3. Itu terlalu otoriter namanya. Pemerintah kan tahu itu tidak benar, kenapa masih mau menggusur?,” terangnya pada wartawan di Jalan Rawajati Barat, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (25/8) kemarin.

Ratna menilai, kalau pemerintah kala dipimpin Ahok kerap menggusur secara tak manusiawi, seperti halnya di Rawajati ini. Lebih jauh, rusunawa yang katanya bisa lebih memanusiakan warga pun justru sebaliknya. Bahkan, dia curiga jika rusunawa pun dijadikan sebagai alat untuk menipu warga belaka saja.

“Saya akan ajak warga bertemu DPRD agar dihentikan dulu deh ini. Lalu, dongeng-dongeng rusunawa memanusiakan juga hentikan sekalian. Ini saja Kalibata City yang seharusnya jadi rusunami sekarang disewa-sewakan tanpa ada surat. Sedang warga sini mana ada yang diajak kesitu,” bebernya.

Oleh sebab itu, lanjut Ratna, sebelum pemerintah melakukan penggusuran dan menyatakan akan menata dan mengatur hunian warga. Sudah sepatutnya pemerintah dahulu menata aturan yang sudah dibuatnya itu, seperti Kalibata City yang seharusnya menjadi rusunami untuk warga Jakarta.

“Mereka tidak menolak untuk dipindah, mereka hanya minta diperlakukan dengan benar. Jangan asal plek gusur, pindah tanpa ada kesepakatan. Memangnya ini sampah main buang seenaknya,” katanya. Ratna menambahkan, dia pun akan mendampingi warga Rawajati menolak penggusuran tersebut. Apalagi, di tempat tersebut terdapat Veteran bernama Letkol (Purn) Ilyas Karim yang sudah tinggal di tempatnya itu selama hampir 30 tahunan lebih.

“Saya tak tahu kalau pemerintah sekarang mungkin sudah tak peduli sama Veteran. Tak penting kali buat mereka. Lalu, ada yang harus didiskusikan dengan kepala dingin. Siapa dapat apa, seberapa. Jangan main plek dipindah kayak mindahin sampah. Itu kasar caranya, katanya mau jadi Gubernur lagi, gimana sih,” ulasnya.

Sedangkan saat dikonfirmasi wartawan mengenai adanya kehadiran Ratna Sarumpaet datang kelokasi. Walikota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi mengatakan, tetap akan kita gusur. Tidak ada sangkut pautnya dengan Ratna.

Terkait pernyataan Ratna Sarumpet yang mengatakan veteran perang Ilyas Karim juga kena gusur ada data menarik yang didapat tim redaksi. Di pemberitaan Detik.com tahun 2008, disebutkan sudah akan digusur. Dan di tahun 2011, veteran perang ini dilansir RMOL mendapatkan fasilitas Apartemen di Kalibata City.

Rumah Veteran Perang Ilyas Karim Akan Digusur Tahun 2008

Masalah demi masalah masih mendera Ilyas Karim di usia tuanya. Pejuang yang mendapat gelar kehormatan 'Veteran Pejuang Kemerdekaan RI' itu akan menjadi korban gusur. Rumahnya yang berada di pinggir rel Kalibata Jakarta Selatan akan digusur pada 2009. 

"Saya mau diusir dari sini. Surat pemberitahuannya sudah ada di lurah. Tahun 2009 saya harus sudah pergi," kata Ilyas Karim, pengibar bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 di rumahnya, Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel, Selasa (12/8/2008) lansir Detik.com.

Perintah pengusiran Ilyas datang dari Gubernur DKI Fauzie Bowo yang ingin membangun rumah susun milik pemerintah di lapangan dekat rumah Ilyas. Konsekuensinya, Ilyas dan sekitar 40 KK yang lain harus "dibersihkan".

"Dia (Foke) mau di lapangan depan dibangun rumah susun. Yang akan membangun Menko Kesra Abu Rizal Bakrie," tutur Ilyas.

Akibat penggusuran itu, sekarang Ilyas kebingungan hendak pindah ke mana. Dia mengaku tidak memiliki tanah lagi di tempat lain. Sedangkan untuk pindah ke rumah salah seorang anaknya, Ilyas mengaku tidak leluasa karena gangguan usia.

HUT RI ke-66 Veteran Perang Ilyas Karim Dapat Fasilitas Apartemen di Kalibata City

Dilansir RMOL, Minggu, 21 Agustus 2011, bertepatan dengan Hari Ke­me­rdekaan RI ke-66, Ilyas Ka­rim mendapat hadiah sebuah apartemen dengan fasilitas leng­kap di Kalibata City, Jakarta Se­latan. “Alhamdulillah, ini se­per­ti mimpi. Masih ada yang peduli dengan pejuang seperti saya, yang hampir dilupakan orang,” ujar Ilyas penuh haru.

Namun, kakek 28 cucu dari 14 anak ini baru bisa menikmati ting­gal di apartemen pada per­te­ngahan 2012. Pasalnya, Tower R yang rencananya akan di­tem­pati Ilyas masih tahap pem­ba­ngu­nan. “Insya Allah, bulan Mei sudah rampung dan sudah bisa dite­m­pati,” tutur Ilyas penuh harap.

Pemberian apartemen itu ber­mula dari kedatangan Ilyas ke Balaikota DKI Jakarta dua ta­hun lalu. Ia menemui Wakil Gu­ber­nur Prijanto. Dalam per­tem­uan tersebut, Ilyas bercerita ru­mah yang ditempatinya puluhan ta­hun akan digusur karena ter­letak di bantaran rel kereta. Saat itu Prijanto berjanji mencarikan apartemen di Kalibata City yang sedang dibangun.

Sebelumnya, pria kelahiran Pa­dang, Sumatera Barat, 31 De­sember 1927 menjalani masa tua di rumah semi per­manen di ban­taran rel kereta api dekat stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Ra­wajati Barat Nomor 07, RT 09 RW 04, Rawajati, Pan­coran, Jakarta Selatan.

Rumah dua lantai bercat biru yang sudah terlihat pudar dan reyot itu ditempati sejak rumah­nya di AsramaTentara Sili­wa­ngi, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, digusur pada 1984.

Ilyas mengatakan pemberian apartemen ini bisa menjadi pe­nawar rasa sakit hatinya karena digusur. “Saat digusur, tidak ada pemberitahuan lebih dulu. Saya dan keluarga tidak sempat berkemas-kemas. Bahkan pia­gam penghargaan dan foto-foto kenangan dengan Bung Karno pun habis, rata dengan tanah. Tidak tersisa!” kenangnya.

(Sindonews.com/Detik/RMOL)

Advertisement by Google
BERIKAN KOMENTAR ()
 
loading...