BukaKata.com, Kabupaten Bekasi - DPD I Golkar Jabar merayakan hari jadi Partai Golkar ke 52 di Desa Sumberreja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, secara sederhana berupa syukuran bersama warga yang diakhiri dengan potong tumpeng dan makan bersama.
Usai menggelar syukuran pada Kamis (20/10/2026) sore, Ketua DPD I Golkar Jabar, Dedi Mulyadi, secara spontan langsung berkeliling ke permukiman warga. Saat berjalan dia dihampiri seorang warga bernama Emi (60) yang curhat mengenai kondisi adiknya yang berpuluh-puluh tahun lumpuh karena sakit.
Mendengar curhatan tersebut, Dedi pun beranjak ke rumah Emi yang berada di Desa Sumberreja, RT 2 RW 1, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Di tempat itu terdapat adik Emi yang bernama Eni (54) yang sedang berbaring di sebuah dipan di bagian belakang rumah semi permanen yang juga digunakan sebagai dapur.
"Iyeu adi saya, Pak. Tos puluhan tahun teu damang kieu. (Ini adik saya, Pak. Sudah puluhan tahun sakit seperti ini)," jelas Emi.
Semasa hidupnya, Eni tidak memiliki suami dan anak. Pasalnya semenjak kelumpuhan itu dia belum pernah menikah. Sehari-hari pasca kelumpuhan dia selalu tergantung pada sang kakak yang hingga saat ini setia merawatnya.
Emi mengatakan, pada awalnya Eni tidur di kamar yang berada di bagian tengah rumah. Namun semenjak sakit dan bertahun tak kunjung sembuh Eni pun meminta dipindahkan ke bagian belakang rumah yang juga berfungsi sebagai dapur. Dia beralasan tidak mau membebani sang kakak yang sudah berkeluarga dengan kondisinya seperti itu.
Kelumpuhan Eni sendiri sebenarnya sudah terdeteksi saat usianya memasuki 20 tahunan, dan puncaknya pada usia 30 tahun dia mengalami kelumpuhan total dari bagian badan, tangan, pinggul, hingga kaki. Sejak saat itu pun kelangsungan hidupnya dihabiskan di atas tempat tidur.
"Ti awal aya tanda-tanda ge hoyong mah ka dokter. Tapi da teu aya biaya, kangge makan oge sesah. Da saya sareng suami ukur buruh gebot. (Dari awal ada tanda-tanda juga pingin ke dokter. Tapi tidak ada biaya, buat makan juga susah. Karena saya sama suami hanya buruh rontok padi)," ungkapnya.
Mendengar itu, Dedi pun sempat membujuk Eni untuk pindah ke salah satu kamar yang berada di bagian tengah rumah. Namun dengan senyuman Eni menolak tawaran Dedi dengan alasan di masa tuanya itu tak mau menyusahkan sang kakak yang telah berkeluarga.
Dengan mata berkaca-kaca akhirnya Bupati Dedi berinisiatif untuk membelikan kasur baru yang lebih layak untuk Eni. Selain itu dia pun memberikan bantuan berupa biaya hidup sehari-hari untuk Eni.
"Bantuan ini adalah kado teristimewa untuk Mak Eni dalam HUT Golkar ke 52. Mak Eni berusaha tegar dengan selalu senyum dan tidak mau menyusahkan keluarganya. Saya lihat kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk berobat, kalau pun sehat prosesnya sangat panjang. Sehingga saya beri bantuan untuk keluarganya hingga akhir hayat Mak Eni," beber Dedi pada detikcom usai berkunjung.
Selain memberi bantuan pada Mak Eni, dalam HUT Golkar ke 52 itu pun Dedi memberikan 'kado' untuk seorang anak yatim yang hidup dengan ibunya berusia senja dalam kondisi buta dan pada enam keluarga berjumlah 16 orang yang bermukim dalam satu atap di sebuah rumah semi permanen. (Sumber: detik.com).
Advertisement by Google
