![]() |
| Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo |
Fenomena itu pun membuat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo gerah. Ia menyebut jika mereka yang kerap menjadi ustadz media sosial tak lebih dari pribadi yang kurang berilmu.
Tujuannya, tak lain hanyalah memperkeruh situasi.
"Tidak punya ilmu, tidak kuliah, asal punya paket data saja bisa," kata Gatot di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tanggerang, Banten, Selasa (29/11).
Pasalnya, Gatot menilai kicauan para ustadz media sosial menjurus ke arah provokasi. Hal itu berbanding terbalik dengan ustadz sungguhan yang kerap menebar kebaikan dan kesejukan dengan ilmu yang lengkap.
"Sangat berbahaya ustadz sosmed ini nggak punya ilmu," tegas Gatot.
"Banyak yang bilang di Medsos kita lindungi Alquran. Lindungi Alquran? Allah telah mengatakan dalam Alquran, 'Dan sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran, kami menjaga Alquran'. Jadi kalau mau jaga Alquran, Allah yang jaga. Jadi kalau ingin berlindung, ikuti Alquran," tegas Gatot.
"Ada yang saya dengar bahwa 'mari kita demo untuk melindungi Alquran'. Baca dong Al Hijr ayat 9, yang melindungi dan memelihara Alquran itu Allah," kata Gatot.
Jika menengok ke belakang, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah mengatakan jika polisi mencium adanya cyber troops.
Cyber troops atau cyber army merupakan sekelompok orang yang memang sengaja menebar kebencian dengan menyebarkan informasi hoax alias palsu.
"Kami sudah mengindikasi bahwa di media sosial, ada kelompok yang memiliki cyber troops atau cyber army. Kelompok yang memang sengaja mereka merencanakan dan men-setting agar masyarakat terprovokasi sedemikian rupa," ujar Tito di Mapolda Metro Jaya beberapa waktu lalu.
Setali tiga uang, Tito pun mengimbau kepada masyarakat agar tak mudah terprovokasi oleh sebaran kebencian melalui media sosial.
Baca: Niat Pengen Bully Eh si Jack Penyebar Foto 'Miras' Pertemuan Ahok dan Tito Malah Jadi Tertawaan
"Jangan mau diadu domba dan terprovokasi. Kita semua sudah memilih iklim demokrasi seperti ini. Kita sudah bagus bergerak berjalan, pembangunan jalan, dan ekonomi baik," ucap Tito.
"Jangan mudah, sekali lagi, terpengaruh medsos. Yang mungkin di-setting pihak tertentu. Kalau enggak akurat, enggak usah di-share. Gunakan akal yang jernih melihat permasalahan," pungkas Tito. (sumber: Merdeka.com)
Advertisement by Google
