-->

Asli Bloon! Sandi Diskamat dengan KUA-PPAS oleh Djarot

Sandiaga Uno. Photo Kompas.com
Sandiaga Uno. Photo Kompas.com
BUKAKATA - Inilah saat-saat yang dinantikan oleh kita semua, terutama oleh para paslon yang sedang menunjukkan kebolehan, kelihaian dan kejelian mereka dalam berargumen. Patokan argumentasi mereka mesti berdasarkan pada keyakinan akan program-programnya demi “Jakarta Baru” yang diimpikan bersama.

Adapun tema pada debat “pamungkas” dalam putaran kedua malam tadi, yakni “Dari Masyarakat untuk Jakarta” yang terdiri dari kesenjangan dan keadilan sosial, penegakan hukum, dan bonus demografi. Sementara subtemanya terkait dengan masalah transportasi, tempat tinggal, reklamasi, pelayanan publik berupa pendidikan dan kesehatan, serta UMKM atau dunia usaha. Debat seru tersebut di bawah panduan moderator Ira Koesno.

Debat seru antar-Cagub

Saat Cawagub Djarot Syaiful Hidayat diberi kesempatan pertama untuk bertanya, Cawagub paslon 3, Sandi Salahudin Uno (entah kelakar atau tidak) meminta kepada Djarot untuk memberikan pertanyaan yang ringan atau mudah. Hhmm… sudah mulai terendus ketidaksiapan Sandi untuk beradu argumen maupun terobosan-terobosan yang brilian. “Jangan (yang) susah-susah pak, jangan (yang) susah-susah”, demikian Sandi memelas.

Kalau ditilik dari nada suaranya dan bahasa tubuhnya yang tak terlihat berpura-pura, sungguh menunjukkan Sandi yang begitu ketakutan. Ternyata insting-nya memang bekerja baik dan akurat karena pertanyaan Cawagub 2, pak Djarot sungguh di luar prediksi. Itu bukan soal program tertentu (karena sudah menjadi pembahasan harian selama ini dan mungkin kita semua juga sudah menghafalnya dengan baik), bukan juga soal solusi konkrit terhadap berbagai permasalahan yang sungguh kompleks di ibukota Jakarta (yang mana masing-masing paslon juga sudah berusaha maksimal untuk menawarkan kemungkinan solusi terbaik).

Pertanyaan Djarot sungguh “menusuk” dari hal yang tampaknya sangat sederhana tetapi justru sangat fundamental. Dia begitu yakin bahwa Sandi tak memiliki pengetahuan apa-apa mengenai topik yang sangat krusial ini.

Djarot: “Pak Sandi yang baik, Wakil Gubernur itu, tugasnya bukan hanya sekedar ‘ban serep’ tetapi betul-betul mem-‘back-up’ Gubernur kita, supaya ada satu-kesatuan. Ada satu tugas dan tanggung jawab dari Wakil Gubernur yaitu di dalam merumuskan dan menyusun KUA-PPAS.

Bagaimana cara pak Sandi untuk bisa membantu Gubernur di dalam menyusun KUA-PPAS tersebut?”

Sandi: “KUA-PPAS itu apa pak? supaya pemirsa di rumah juga tahu”

Hahahaha… asli ngakak! Menutupi kebodohannya dengan “menjual” nama masyarakat se-Indonesia! Sungguh tragis bro!

Sontak saja, para penonton yang sudah diwanti-wanti untuk tertib dan tak boleh bersuara selama debat berlangsung, kecuali diberikan kesempatan oleh mbak Koesno sang moderator, akhirnya tak mampu menahan gelak tawa. Tak begitu yakin kalau semua hadirin dalam acara tersebut ikutan tertawa tetapi yang jelas, para pendukung paslon nomor 2 seakan mencibir Sandi yang tidak tahu mengenai salah satu tugas utama seorang Wakil Gubernur.

Djarot pun meladeni Sandi dan menjelaskan: “KUA-PPAS itu Kebijakan Umum Anggaran” (Prioritas Plafon Anggaran Sementara)

Apakah memang merupakan jebakan Batman atau Superman, Djarot hanya menjelaskan kepanjangan dari KUA saja sedangkan PPAS-nya tak sempat dijelaskan karena Sandi sudah begitu menggebu-gebu ingin memberikan jawaban. Sepanjang Sandi berusaha menjelaskan pendapatnya, dahi ini seakan tak berhenti mengerut dan perlahan terasa pening. Untung saja botol baygon tak ada dalam jangkauan tangan hehehehehe… Sandi sepertinya sedang menyaingi Cak Lontong!

Tampak sekali, Sandi begitu gugup dan berusaha “mengelabui” pemirsa maupun paslon tandingannya untuk bisa memahami “keb*d*han” seorang Sandi. Sudah tak tahu istilah yang digunakan tetapi masih percaya diri untuk memberikan jawaban seadanya. Akhirnya dirinya sendiri yang dipermalukan di hadapan publik.

Djarot dengan tegas dan terang-terangan mengatakan bahwa Sandi tak menjawab sama sekali pertanyaannya (sama juga dengan Anies yang pada segmen berikutnya dicerca oleh Ahok karena tak menjawab pertanyaannya. Biarkanlah itu pada pembahasan berikutnya nanti). Sandiwara demi sandiwara ditawarkan paslon 3 tetapi tak mampu mengelabui Ahok-Djarot.

Dengan kenyataan “pahit” di kubu Anies-Sandi ini, bisa memberikan kita sebuah gambaran yang jelas tentang apa yang ingin mereka dicapai dalam Pilkada ini dan dengan cara apa untuk mewujudkannya. Warna abu-abu selama ini semakin kelabu dan kabur.

Sepintas ini merupakan suatu hal yang sepele tetapi sebenarnya sungguh fatal! Kalau hal fundamental yang berkaitan dengan anggaran maupun penyusunannya saja sudah tidak tahu, bagaimana bisa merumuskan dan/atau menerjemahkan semua bentuk program plus-plus dalam bentuk anggaran yang nyata? Saya tak pernah sekali pun mendengar paslon 3 berbicara mengenai sistem E-budgetting. Celah yang menggembirakan bagi deretan mafia angggaran, apalagi jika pemimpinnya teledor.

Benang merah antara hasrat berkuasa dan pengetahuan pribadi para calon


Mendalami dan mencermati alur debat semalam, kita dengan sungguh jelas dan mudah membaca dan memahami kualitas calon pemimpin di ibukota. Setidaknya penulis bisa memetakan beberapa kemungkinan sebagai alasan pencalonan pasangan nomor urut 3 ini dalam Pilkada DKI untuk periode 2017-2022:

Pertama, Orientasi pencalonan Sandi (dan mungkin juga Anies) bukan berangkat dari suatu pengetahuan yang komprehensif mengenai kebijakan maupun cara kerja pemerintahan daerah. Mereka hanya fokus pada permasalahan konkrit terutama di bidang sosial dan ekonomi di Jakarta dan lupa bahwa mereka juga harus menjadi orang nomor satu yang menaati peraturan, misalnya dalam penyusunan anggaran, dsb.

Kedua, belum terpecahkan “dilema” mengenai wacana Anies-Sandi soal “merangkul semua” (kecil-miskin, kaya, moderat, fundamentalis sampai kelas ekstrim, agamais, keberagaman suku dan bahasa, dsb.) tetapi di lain pihak mereka mati-matian berpedoman pada jargon “berpihak pada rakyat kecil dan miskin”. Masih lebih masuk akal dengan prinsip Basuki-Djarot yang tidak berpihak kepada siapapun melainkan hanya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warga DKI. Masing-masing pihak, baik yang kecil-miskin maupun yang kaya sama-sama memiliki hak dan kewajiban sementara pemerintahlah yang mengadministrasikan kebijakan-kebijakan yang berasaskan pada prinsip keadilan;

Ketiga, kedengarannya baik dan menjanjikan untuk merangkul “semua” dan berpihak pada yang “kecil-miskin”. Tetapi bagaimana mewujudnyatakannya karena di satu pihak, semua dirangkul tetapi di lain pihak, hanya kelompok tertentu yang dirangkul-utamakan! Dengan prinsip ini, saya melihat ada bahaya besar disana: semuanya dirangkul sebagai wujud pemimpin yang mengayomi (sangat positif!) tetapi yang kecil-miskin dirangkul lebih erat sementara yang lain bisa diabaikan (sementara). Bisa-bisa mereka mati kelemasan: terjepit dan terhimpit karena saking sayang dan gemesnya Anies-Sandi merangkul mereka erat-erat. Sudah tak berdaya, diperdaya pula! Sudah jatuh tertimpa tangga lagi! Sial yang tak berkesudahan.

Keempat, ketidaktahuan (atau kasarnya “kebodohan”) Sandi (mungkin juga Anies) mengenai konsep mendasar dalam pemerintahan sudah begitu jelas memberikan pesan kepada publik terutama warga DKI bahwa mereka sedang dihadapkan pada calon pemimpin yang belum tahu memegang kemudi pemerintahan. Paslon Anies-Sandi bisa saja tahu ke mana tujuan yang ingin mereka capai: “maju kotanya, bahagia warganya” tetapi mereka tidak tahu dan mungkin sedang “buta huruf” soal bagaimana menyusun anggaran agar semua program yang digembar-gemborkan bisa terpetakan dengan dana.

Paslon 3 hanya gagah-gagahan

Debat semalam yang seyogianya merupakan debat pamungkas, mestinya habis-habisan! dan bukan hanya gagah-gagahan saja. Senyum menawan tidak akan menambah rasa pada gagasan. Hasil debat sudah pasti: paslon 3 dikuliti dan dibabat habis-habisan dalam debat semalam, terutama dalam sesi debat antar-Cagub dan antar-Cawagub.

Di sinilah letak keteledoran seorang calon pemimpin, yang mana jika terpilih kelak (mudah-mudahan tidak!) bisa jadi akan ada mafia persekongkolan maling dan bandit yang mencuri uang rakyat saat penyusunan APBD. Bagaimana rakyat bisa mendelegasikan seseorang yang kredibilitasnya dipertanyakan? Belum lagi kasus hukum yang menjerat Sandi yang masih menunggu proses peradilan selanjutnya. Dan Anies dengan dana berlebih Rp 23,3 triliun? Dana pameran buku yang besarannya Rp 146 milyar?

Pesannya jelas! yang ada hanya “nafsu” dan “hasrat” berkuasa sedangkan yang lainnya hanya abal-abal, akal-akalan saja!

Teriring salam sejatinya calon pemimpin DKI harus BERKACA DIRI!
Advertisement by Google
BERIKAN KOMENTAR ()
 
loading...