-->

Soal Tunggang Menunggangi, Prabowo Cuma Nomer 2, Ini Dia yang Nomer 1 Juaranya

Prabowo Menunggangi Kuda. Photo: tribunnews.com
Oleh: Makmun Rasyid
BUKAKATA.COM - Ketika ibtidaiyah dulu, ada doktrin seputar hal berenang dan berkuda itu dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Penunggang itu membutuhkan tempat tunggangannya yaitu kuda. Akhir-akhir ini, banyak sekali yang suka menunggang sana-sini. Termasuk HTI.

HTI sangat lihai dalam hal ihwal tunggang menunggang. Pastinya ia bisa diberikan hadiah, dan seandainya Prabowo adu tunggang menunggang, pasti Prabowo juara 2 dan HTI juara 1. Habib Rizieq sebagai ketua FPI, termasuk salah satu ormas yang kerap diingetin oleh gurunya agar hati-hati sama yang menempel. Utamanya kalau mau aksi. Banyak tunggangan pesanan dari luar melalui agen-agennya di Indonesia.
HTI sudah terlatih dalam hal tunggang menunggang ini. Di mana langkahnya dibalut oleh teks-teks Ilahiyah. Mereka layaknya menganggap orang lain tak mengerti teks-teks itu dan mereka wajib menyeru kepadanya. Bahkan tak jarang kadernya, secara reaktif mempertontonkan dirinya layaknya guru daripada ulama-ulama kami di Indonesia.

Seakan-akan pendiri bangsa dan ulama NU-Muhammadiyah itu tidak mengerti pola terbaik dan ideologi yang pas untuk diterapkan di Indonesia. Kemudian mereka menyerukan pemikiran imporannya kepada murid-murid dari guru-guru itu. Seakan-akan ulama-ulama NU dan Muhammadiyah tidak mengerti hukum qisas, zina dan sejenisnya dalam praktek beragama di Indonesia.

Kader-kader HTI, yang baru bisa baca iqra mulai melemparkan tuduhan liberal, sekuler, komunis, marxis dan apalah semuanya itu kepada mereka-mereka yang tidak setuju adanya penerapan Khilafah di Indonesia. Kemudian parahnya, mereka pun mulai meng-inbox para penentang dengan seruan: "Akhi, Anda Muslim tapi melanggar aturan dan ayat-ayat Qur'an-Sunnah. Segera bertaubatlah sebelum malaikat mencabut nyawa Anda. Jadilah Muslim yang kaffah se kaffah-kaffahnya." Seruan ini seakan-akan tafsiran merekalah yang paling benar dan penentang Khilafah salah.

Kader-kader HTI yang baru junub, bahkan yang belum baligh pun ikut menjadi korban doktrin mereka, disuruh pegang bendera yang mereka sendiri tidak mengerti konteks hadis "liwa" dan "rayah", mereka diperbudak oleh si penyuruh agar tampak "wow" sambil berkata: Khilafah didukung dari manusia bayi sampai manusia paling tua. Para bayi-bayi pun disuruh kibarkan bendera di mana-mana, padahal bayi itu pun kencing aja belum lurus, disuruh bicara agama dan memperbaiki negara. Mereka disuruh teriak-teriak: ini dan itu bisyarah Nabi. Anak bayi dikasih janji pasti sangat mau, bahkan tidak ditepati janji itu juga palingan menangis atau ngambek.
Kader-kader HTI yang jurusan tehnik pun mulai ikutan bicara tehnik menafsirkan Al-Qur'an. Seakan-akan tehnik mesin itu sama dengan tehnik Al-Qur'an. Akhirnya, menafsirkan Al-Qur'an seperti dirinya mempreteli motor dan mobil.

Saya hanya mengatakan: kami barisan anak muda NU akan melawan Anda yang ingin mengubah haluan berbangsa dan bernegara ini. Apapun resikonya, kami akan menjaga sampai titik darah penghabisan. Label yang Anda berikan tidak akan mempengaruhi gerakan masif yang akan kami buat. Kami tidak saja mencintai sesama Muslim tapi seluruh rakyat Indonesia dan Khilafah bukan solusinya. Gihu aja deh. Gak papa kalian kepanasan, kalau panas pakai kipas angin yah.

Makmun Rasyid, Penulis buku HTI: Gagal Paham Khilafah
Advertisement by Google
BERIKAN KOMENTAR ()
 
loading...