![]() |
| Mahasiswa/i Indonesia di Belanda dinilai Ahok bisa sok pintar dan hanya bisa omong doang. Photo by detik.com. |
BukaKata, Jakarta. Sekumpulan mahasiswa/i Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait reklamasi teluk Jakarta.
PPI Belanda menyatakan bahwa rencana Pemprov DKI untuk mereklamasi dan membentuk Giant Sea Wall sebagai bentuk pertahanan pesisir adalah ide kedaluwarsa dan sudah ditinggalkan oleh negara-negara maju seperti Belanda. Mereka menyarankan agar Pemprov DKI mengatasi persoalan rob di Jakarta dengan cara "sand nourishment" yaitu pembuatan jebakan-jebakan pasir di wilayah yang rawan abarasi, bukan dengan membuat tanggul raksasa di tengah laut.
Menanggapi kritikan ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) justru menilai PPI Belanda sekedar kumpulan orang-orang yang sok pintar dan hanya bisa omong doang.
Hal itu disampaikan Ahok saat memberi sambutan dalam acara pemberian penghargaan para pemenang program Color of Jakarta 2016, di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta, Jumat (24/6/2016) malam.
"Dia bilang itu salah, mesti pakai pasir. 'Sekolah apa ini?' saya pikir. Orang kita di bawah muka laut 1,4 meter kok, kalau lagi rob, 2,8 meter. Sudah 4 meter lebih. Di seluruh dunia pakai tanggul, pakai pompa," tutur Ahok.
Masih menurut Ahok, pembangunan tanggul adalah pilihan yang tepat, bukan malah menggunakan jebakan pasir seperti yang disarankan PPI Belanda. Ahok menyebut PPI Belanda dan para pengritik reklamasi Teluk Jakarta hanya asal berbicara.
"Nah dia bilang enggak (membangun tanggul). Kacau, mesti pakai pasir, pakai trap (jebakan pasir -red). Itu cerita kalau bukan berhadapan dengan laut. Tapi memang orang-orang kita ini pintar, ngomong doang gitu loh," tutur Ahok.
Sistem jebakan pasir bisa diterapkan bila tak langsung berhadapan dengan laut. Namun di Jakarta, bibir daratan berhadapan dengan air laut. Ahok ingin menemui PPI Belanda.
"Kalau saya ketemu dia itu saya pengin, ya pengin ketemu saja, kamu boleh enggak suka sama saya. Kalau enggak suka sama saya enggak apa-apa, tapi jangan mengeluarkan teori yang menyesatkan," tutur Ahok.
Ahok lantas merujuk ke ragam kritik yang lain yang masih ditujukan untuk reklamasi Teluk Jakarta. Ahok pernah mendengar ada pengamat yang menilai banjir rob di Teluk Jakarta pada Mei kemarin adalah karena aktivitas reklamasi di laut Teluk Jakarta.
Ahok menyebut analisis seperti ini adalah penyesatan. Menurut Ahok, air rob terjadi karena laut pasang dipengaruhi gravitasi bulan. "Jadi model penyesatan begini itu bagi saya kurang ajar," ujarnya.
Ahok memungkasi dengan pesan. "Jadi kalau istilah di kampung saya itu, kalau bodoh nurut, kalau pintar mengajar. Jangan jadi manusia bodoh enggak mau menurut, pintar enggak mau mengajar. Itu namanya kurang ajar," kata pria asal Belitung Timur ini santai. (detik/bnkri-0625).
Advertisement by Google
