-->

Lawan Ahok, 7 Parpol Ingin Jakarta Dipimpin Gubernur yang Arif, Bijaksana, Beradab, Santun, Beretika, Bersih, dan Cerdas

Tokoh-toloh tujuh partai politik yang gagal mendikte Ahok kini membentuk Koalisi Kekeluargaan (8/8/2016).
BukaKata.com, Jakarta - Tujuh parpol yakni PDIP, Gerindra, PD, PKS, PPP, PAN, dan PKB membentuk koalisi kekeluargaan untuk menghadapi cagub incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ketua Timses Ahok Nusron Wahid pun melontarkan sindiran tajam.

"Partai-partai membangun koalisi ya terserah saja. Kok kayak arisan saja, pakai nama kekeluargaan? Memang apa ada yang musuhan?" kata Nusron kepada detikcom, Selasa (9/8/2016).

Nusron menuturkan politik di Indonesia tidak ada koalisi yang abadi. Bangunan kerja sama selalu cair dan dinamis.

"Saya yakin koalisi ini hanya emosi sesaat saja, dari elite parpol yang tidak bisa mendikte Ahok. Mereka gagal deal dengan Ahok," kata Nusron.

"Berbeda dengan kami yang mengusung dan mendukung Ahok karena menjawab keinginan mayoritas publik Jakarta yang pengin punya gubernur yang berani, tegas, tulus, dan apa adanya dalam menyampaikan kebijakan. Saking tulusnya Ahok, terkesan vulgar menyinggung banyak pihak, terutama elite yang kehendaknya tidak terakomodasi," imbuhnya.

Karena kepercayaan diri penuh Ahok bakal menang lagi, Nusron merasa tak perlu ada strategi khusus lagi. Karena memang menurutnya warga DKI Jakarta menginginkan Ahok kembali memimpin.

"Tidak perlu ada strategi khusus. Biasa saja. Kita selalu bersama rakyat Jakarta dan akar rumput Jakarta yang sejal awal men-support dan menghendaki Ahok menjadi Gubernur lagi," pungkasnya.

Ahok Tidak Takut Dikeroyok

"Enggak masalah, mau kumpulin semua partai gua enggak takut," ungkap Ahok saat dikonfirmasi soal Koalisi Kekeluargaan di Gedung Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (8/8/2016).

Ahok pun mengingatkan niat awalnya untuk maju lewat jalur independen yang berarti melawan semua partai. Namun ternyata, 3 partai pun merapat dan menyatakan dukungan.

"Waktu aku independen kamu kira mental ku seperti apa? Mental saya waktu itu independen lawan semua partai. Itu mental saya, lawan semua partai," kata dia.

"Eh enggak tahunya tiga partai teman, akarnya sama-sama kenal mereka langsung dukung," imbuh Ahok.

Meski situasi politik jelang Pilgub DKI semakin panas, Ahok mengaku hubungannya dengan PDIP masih baik. Namun diakui Ahok ada sejumlah kader PDIP yang tidak suka dengan dirinya.

"PDIP itu oke-oke saja. Beberapa saja sekarang sewot. Kalau itu enggak mau pusing. Wong PDIP kata Mansinton kambing dicat putih aja bisa menang kok. Apalagi orang lawan aku, apalagi manusia?" tutur dia.

Koalisi Kekeluargaan memang belum menyebut nama untuk bisa bertarung melawan Ahok. Namun Gerindra dan PKS sebelumnya sempat menyebut mendukung jika PDIP mengusung Risma dan disandingkan dengan Sandiaga Uno.

"Oh enggak apa-apa, bagus. Makin banyak yang maju makin bagus," ujarnya.

Lantas apakah Ahok yakin akan memenangkan Pilgub DKI jika Risma akan hijrah dari Surbaya ke Jakarta?


"Enggak tahu aku, tergantung orang Jakarta kan," jawab Ahok.

7 Kriteria Cagub 7 Parpol Koalisi Kekeluargaan

Sementara itu Ketua DPW PAN DKI Jakarta Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio mengatakan, 7 partai sepakat melakukan koalisi. Bahkan, 7 partai ini telah mengusung 7 kriteria bagi bakal cagub DKI yang hendak diusung.

"Di sini kami bertujuh berkoalisi dengan nama koalisi kekeluargaan. Kami di sini bersepakat untuk mencari kriteria pemimpin yang arif, bijaksana, beradab, santun, beretika, bersih dan cerdas," kata Eko usai melakukan pertemuan di sebuah restoran di bilangan Jakarta Pusat, Senin (8/8).

Dia mengatakan, 7 kriteria ini diusulkan oleh masing-masing partai yang tergabung dalam koalisi kekeluargaan. Menurut dia, dalam Pilgub DKI 2017, mereka sepakat hanya untuk 7 partai, tidak yang lain.


"Insya Allah kita sepakat 7 partai," kata Eko.

Parpol Koalisi Kekeluargaan Bakal Membelot?

Seperti diketahui umum, sebelumnya tujuh parpol di DKI mendeklarasikan Koalisi Kekeluargaan untuk mencari lawan bagi calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Meski begitu, Golkar masih membuka pintu bila ada parpol di koalisi itu yang hendak 'membelot'.

"Pintu belum tertutup, kan pendaftaran masih sebulan lagi. Komunikasi politik terus berjalan sambil konsolidasi," kata Korbid Polhukam Golkar, Yorrys Raweyai saat dihubungi, Senin (8/8/2016).

Golkar sendiri menyambut baik Koalisi Kekeluargaan yang dideklarasikan oleh PDIP, PAN, Partai Demokrat, PKB, PPP, dan PKS. Menurut Yorrys, persaingan akan makin sehat dengan semakin banyaknya calon.

"Yang penting harus ada calon yang punya visi jelas. Fair, demokratis, untuk bangun Jakarta," ungkapnya.

Dukungan Golkar, Nasdem, dan Hanura sebenarnya sudah cukup untuk Ahok melenggang di Pilkada. Namun, Golkar melihat perjalanan Pilgub DKI masih akan dinamis.

"Masih sebulan lagi, biarlah berproses," ungkap Yorrys.

Deklarasi Koalisi Kekeluargaan ini diwakilkan oleh masing-masing ketua partai wilayah DKI Jakarta, di antaranya Plh Ketua DPD PDIP DKI Bambang DH, Ketua DPD Gerindra DKI M Taufik, Ketua DPD Demokrat DKI Nachrowi Ramli, Ketua DPW PKB DKI Hasbiallah Ilyas, Ketua DPW PKS Syakir Purnomo, Ketua DPW PAN Eko Patrio, dan Ketua DPW PPP Abdul Aziz. Koalisi ini baru menyimpulkan kriteria calon yang akan diusung, belum sampai mengerucutkan nama.

"Saya ingin sampaikan hasil musyawarah yang baru kami laksanakan. Bahwa tadi penuh dengan keakraban, kekeluargaan. Dan kami kemudian sampai pada satu titik temu, tidak bicara orang per orang, tapi berhasil menformulasikan kriteria. Seperti apa kira-kira pemimpin yang nanti akan kita perjuangkan untuk dipilih orang Jakarta," ujar Plh DPD PDIP DKI Jakarta Bambang DH di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/8/2016). (detik.com/BN-090816).

Advertisement by Google
BERIKAN KOMENTAR ()
 
loading...