-->

Mari Menjadi Saksi Langkah FPI Menggali Lubang Kubur Sendiri, Saat Ormas Besutan Rizieq Shihab Ketahuan Belangnya

Mari Menjadi Saksi Langkah FPI Menggali Lubang Kubur Sendiri, Saat Ormas Besutan Rizieq Shihab Ketahuan Belangnya
Mari Menjadi Saksi Langkah FPI Menggali Lubang Kubur Sendiri, Saat Ormas Besutan Rizieq Shihab Ketahuan Belangnya. ilustrasi, image: garudanetizen.com
BUKAKATA - Rasa bangga memenuhi rongga dada seluruh punggawa Front Pembela Islam (FPI). Langkah dan gerak tubuh mereka menunjukkan sikap mereka yang bak cempiang Islam menegakkan kebenaran. Pada tanggal 4 November 2016 di ibu kota Jakarta, mereka berhasil menggiring ratusan ribu umat Islam dalam satu Aksi Bela Islam yang bertujuan memenjarakan Ahok.

Langit kota Jakarta menjadi saksi betapa heroiknya Riziq Shihab berorasi lantang menuntut agar Ahok dipenjara atas kebengalan sang Gubernur. Sementara barisan FPI dengan gegap gempita menyambutnya dengan pekik penuh kemenangan.

Baca: Tak Disangka, Pria Berpenampilan Tak Pantas ini Orang Terpenting di Thailand

Kebanggaan mereka makin bertambah pada aksi yang berlangsung selanjutnya. Pada aksi 212, FPI pun berhasil mengumpulkan massa hingga jutaan orang dari berbagai penjuru tanah air. Mereka bahkan berhasil “memaksa” Presiden Joko Widodo untuk mengikuti ibadah Shalat Jumat di lapangan monas, sebuah ibadah Salat yang tidak lazim terjadi.

Siang itu, dengan berapi-api, di hadapan Presiden Joko Widodo dan ribuan umat Islam,  Riziq Shihab bahkan mengatakan menyatakan bahwa ayat-ayat Allah jelas berada jauh di atas ayat-ayat konstitusi. Ini mungkin memberikan gambaran bagaimana sikap FPI terhadap hukum dan UU yang berlaku di Indonesia.

Baca: Dunia tak Akan Mengira, Presiden 'Kurus Ceking' Mampu Gertak China Untuk Kedaulatan NKRI, Ini Yang Dilakukan Pak Jokowi di Natuna

Setelah rangkaian dua aksi massa akbar yang dimotori oleh FPI tersebut, tiba-tiba proses hukum terhadap Ahok mulai bergulir. Hmmm…rupanya berhasil “memaksa” penegak hukum untuk menuruti kehendak FPI, kini Ahik resmi didakwa.

Keberhasilan “memaksa” Presiden untuk mengikuti Salat Jumat di Monas dan “memaksa” penegak hukum untuk memproses hukum Ahok membuat mereka jemawa luar biasa. Semangat FPI untuk menjalankan aksinya makin menjadi-jadi di seantero Indonesia. Ditambah lagi, adanya suara yang mengatakan bahwa pimpinan FPI tersebut adalah pimpinan de facto Umat Islam Indonesia. Beberapa kelompok bahkan ada yang menobatkan Riziq Shihab sebagai Man Of The Year. Ck ck ck..mereka semakin besar kepala.

Fatwa MUI

Menjelang Natal, MUI yang sepertinya merupakan sahabat karib FPI mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam untuk mengenakan atribut natal. Dengan semangat menyala-nyala FPI meresponnya dengan melakukan sweeping di berbagai pusat perbelanjaan di seantero Indonesia.

Berbekal fatwa MUI, mereka tak segan mendatangai pusat-pusat perbelanjaan dan meminta manajemen perusahaan tersebut untuk menuruti kehendak mereka. Di Surabaya, mereka mendatangai pusat perbelanjaan untuk menyosialisasikan fatwa MUI. Di Solo, bahkan terjadi aksi sweeping yang dibarengi dengan perusakan dan penyerangan. Di Sragen, Kapolres bahkan secara tegas melarang ormas ini untuk melakukan aksi sweeping.

Baca: Rizieq Shihab FPI CS Tak Perlu Demo-demo Lagi, Agus Yudhoyono Merasa Dirugikan Karena Kasus Ahok

Puncak dari aksi yang penuh kesombongan kembali dilakukan oleh FPI. Dalam sebuah forum, Riziq Shihab  mengeluarkan pernyataan bernada melecehkan ajaran agama lain, Katolik. Atas peristiwa tersebut, FPI dilaporkan pada pihak yang berwajib.

Siapa FPI sebenarnya

Rangkaian aksi yang dilakukan FPI mulai dari 411 hingga peristiwa dugaan penistaan agama yang dilakukan Habib Riziq sesungguhnya telah berhasil menampilkan siapa diri mereka sesungguhnya di hadapan rakyat Indonesia.

Sebelum peristiwa 411 berlangsung , masih banyak umat Islam yang beranggapan bahwa FPI benar-benar mewakili kelompok Islam. Nama Front Pembela Islam yang begitu heroik telah berhasil menyihir berbagai kalangan untuk membenarkan aksi FPI melalukan sweeping dan tindakan-tindakan berbau kekerasan lainnya.

Inilah Problematika yang mungkin dihadapi oleh Kepolisian ketika hendak membubarkan organisasi ini. Polisi menilai masih adanya dukungan dari sebagian besar massa Islam terhadap FPI. Ini merupakan beban psikologis yang diterima kepolisian. Akibatnya, meskipun FPI kerap melakukan pelanggaran hukum, Kepolisian terkesan membiarkan karena ada kesan kekhawatiran yang timbul bahwa Kepolisian berseberangan dengan ormas Islam.

Akan tetapi rangkaian peristiwa 411 dan seterusnya telah berhasil membalikkan keadaan. Dukungan Umat Islam terhadap FPI berubah. Melalui media, umat Islam mendapat pembelajaran bahwa ada upaya untuk menggunakan agama sebagai alat politik untuk membunuh karakter orang lain. Umat juga tahu bahwa ada upaya untuk menggoyang pemerintahan presiden Jokowi melalui isu agama.

Baca: Enam Orang Tewas, Ini Sosok Korban Pembunuhan Sadis di Pulomas, Jakarta Timur

Akibatnya mereka yang semula mendukung aksi FPI menjadi menolak aksi FPI. Mereka jadi tahu bahwa FPI tidak lebih hanyalah ormas yang kerap menggunakan simbol agama dalam setiap aksinya. FPI adalah sebuah kelompok intoleran yang tak segan-segan melanggar hukum demi melancarkan aksinya. Mereka tak peduli apakah memaksa orang lain menuruti kehendaknya itu termasuk perbuatan melanggar hukum atau tidak. Dalam benak mereka yang penting menjalankan perintah pimpinan dan……”menyosialisasikan” fatwa MUI.

Blunder-blunder itulah yang mungkin tidak diperhitungkan oleh FPI. Kesombongan-kesombongan yang mereka lakukan justru mengantar organisasi ini ke arah kehancuran.

Baca Juga: Gus Dur: Gunakan Ayat Al-Qur'an pada Tempatnya, Jangat Takut-takut Pilih Ahok!

Penutup

Kini pimpinannya akan dihadapkan pada kasus penistaan agama yang juga mereka tuduhkan pada Ahok. Sementara organisasi FPI sendiri juga sudah mendapat cap negatif dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Adanya kasus-kasus hukum yang dilanggar FPI, ditambah dukungan moral dari masyarakat Indonesia, tak diragukan lagi akan menghentikan langkah FPI untuk selama-lamanya. Mari kita saksikan bersama.

Oleh: ARIF BUDI DARMAWAN 
Sumber: seword.com
Advertisement by Google
BERIKAN KOMENTAR ()
 
loading...